Sabtu, 23 Maret 2013

Tulisan 3 (Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan, Pertumbuhan Personal)



Ψ Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
            Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang dinamakan penyesuaian diri, karena setiap dari kita pasti pernah melakukan apa itu penyesuaian diri, baik dilingkungan keluarga, sekolah ataupun tempat bermain. Tapi disini saya akan mencoba menuliskan beberapa definisi dan menjelaskan apa itu penyesuaian diri menurut para ahli.
a. W.A Gerungan (1996) menyebutkan bahwa penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan.
b. Menurut Soeharto Hoerdjan (1987) “Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang tujuannya adalah mengatasi masalah dan hambatan”

(Sumber : Sunaryo. (2002). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC)

♪ Definisi Penyesuaian Diri
Adapun definisi mengenai penyesuaian diri yang lain yaitu → Dari segi pandangan psikologis, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustasi dan konflik, ketenangan pikiran/jiwa, atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti belajar bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Tyson menyebut hal-hal seperti kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan yang seimbang, kemampuan untuk mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi terhadap frustasi, humor, sikap yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain (Tyson, 1951).
            Secara sederhana penyesuaian diri dapat dikatakan sebagai proses yang melibatkan respons-respons mental dan tingkah laku yang menyebabkan individu berusaha mengulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan, frustasi-frustasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan tuntutan-tuntutan batin.

♪ Konsep Penyesuaian Diri yang Baik
Setelah membahas mengenai definisi penyesuaian diri pasti kita bertanya-tanya, lalu seperti apakah penyesuaian diri yang baik itu?. Inilah sedikit jawaban dari pertanyaan tersebut → Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memiliki respons-respons yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotic adalah orang yang sangat tidak efisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap.

♪ Penyesuaian Diri adalah Relatif
Kira-kira apa yang ada dibenak anda mengenai penyesuaian diri adalah relatif? Pasti anda berfikir bahwa penyesuaian diri pada diri seseorang dikatakan relatif karena itu tergantung pada penilaian pribadi orang yang melakukan penyesuaian diri. sebenarnya pendapat anda itu tidaklah salah, tapi untuk lebih jelas dan lengkapnya penyesuaian diri adalah relatif sebagai berikut → Penyesuaian diri adalah relatif karena tidak ada orang yang dapat menyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian diri harus dinilai berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan menanggulangi tuntutan-tuntutan yang dihadapi dan kapasitas ini berbeda-beda menurut kepribadian dan tingkat perkembangan.

♪ Penyesuaian Diri versus Moralitas
Pemakaian baik dan buruk menempatkan seorang psikolog dalam ilmu kesehatan mental dalam posisi untuk membuat penilaian terhadap tingkah laku yang sebenarnya diharapkan tidak dilakukan oleh seorang ilmuwan. Tetapi dapat dikemukakan di sini bahwa keputusan untuk menilai bukan sesuatu yang khas bagi bidang ilmu moral atau etika. Setiap orang dapat berbicara tentang kesehatan yang baik dan buruk, atau cuaca yang baik atau buruk dengan tidak memperhatikan pandangan moral atau etika. Kita tidak melihat tingkah laku yang tidak dapat menyesuaikan diri sebagai sesuatu yang secara moral buruk atau juga orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik sabagai teladan kebajikan yang sempurna. Kemampuan menyesuaikan diri tidak dapat disamakan dengan kebajikan, atau ketidakmampuan menyesuaikan diri disamakan dengan dosa. (Mowrer, 1960). Tetapi sering kali terjadi bahwa imoralitas merupakan akar dari ketidakmampuan menyesuaikan diri dan sudah pasti penyesuaian diri yang sehat dalam pengertian yang sangat luas harus juga mencakup kesehatan moral.

Ψ Pertumbuhan Personal
Pertumbuhan kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya minat  terhadap pekerjaan dan kegemaran. Sulit menyesuaikan diri dengan baik terhadap tuntutan-tuntutan pekerjaan yang tidak menarik dan membosankan, dan segera pekerjaan itu menjadi hal yang tidak menyenangkan atau menjijikkan. Tetpi, kita memiliki cara tertentu untuk mengubah dan mengganti pekerjaan yang merangsang minat kita sehingga kita dapat memperoleh kepuasan terus-menerus dalam pekerjaan.

      Pertumbuhan pribadi tergantung juga pada skala nilai yang adekuat dan tujuan yang ditetapkan dengan baik, kriteria yang selalu dapat digunakan seseorang untuk menilai penyesuaian diri. Skala nilai atau filsafat hidup adalah seperangkat ide, kebenaran, keyakinan, dan prinsip membimbing seseorang dalam berpikir, bersikap, dan dalam berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain dalam memandang kenyataan dan dalam tingkah laku sosial, moral dan agama. Seperangkat nilai inilah yang akan menentukan apakah kenyataan itu besifat mengancam, bermusuhan, sangat kuat, atau tidak patut menyesuaikan diri dengannya. Penyesuaian diri memerlukan penanganan yang efektif terhadap masalah dan stress yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dan pemecahan masalah dan stress itu akan ditentukan oleh nilai-nilai yang kita bawa berkenaan dengan situasi itu. kita seringkali mendengar orang-orang menjadi berantakan dan dengan demikian mendapat gangguan emosi dan tidak bahagia. Orang-orang tersebut tidak yakin mengenai hal yang baik atau buruk, benar atau salahh, bernilai atau tidak bernilai. Mereka tidak memiliki pengetahuan, nilai, atau prinsip yang akan menyanggupi mereka untuk mereduksikan kebimbangan atau konflik yang secara emosional sangat mengganggu.

(Sumber : Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius)




Tulisan 2 (Teori Kepribadian Sehat)


Dalam ilmu pikologi kita mengenal banyak sekali teori, diantara berbagai teori tersebut ada satu teori yang berhubungan erat dengan kesehatan, kepribadian, sekaligus mental manusia. Teori itu disebut dengan Teori kepribadian sehat. Karena terdapat banyak aliran dalam psikologi, definisi atau karakteristik kepribadian sehat itu sendiri pun secara otomatis berbeda-beda, dalam hal ini kepribadian sehat dijabarkan berdasarkan tiga mazhab besar psikologi, yaitu Aliran psikoanalisa, Behavioristik dan Humanistik. Sebelum masuk pada pembahasan kepribadian sehat menurut tiga mazhab, pastinya banyak yang bertanya-tanya, pribadi yang sehat tuh seperti apa sih?, jadi begini → Pribadi yang sehat adalah pribadi yang matang, yaitu pribadi yang tidak dikontrol oleh trauma dan konflik masa lalu. Pribadi ini didorong ke depan oleh suatu visi dan misi itu mempersatukan kepribadiaannya serta membawanya melewati tantangan demi tantangan yang terus bertambah. Kebahagiaan bukan merupakan tujuan utama. Kebahagiaan hanyalah merupakan hasil sampingan dari proses mencapai tujuan. Pribadi ini akan terus berusaha mencari motif-motif dan tujuan baru begitu tujuan lamanya tercapai.
(Sumber : Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius). 

Setelah mengetahui apa itu pribadi sehat, berikut penjelasan mengenai kepribadian sehat menurut tiga mazhab :
1.      Aliran Psikoanalisa
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia merupakan hasil tiga sub sistem dalam kepribadian manusia yang disebutnya Id, Ego, Superego. Id adalah kepribadian yang menyimpan dorongan-dorogan biologis manusia, sementara Ego berfungsi menjembatanai tuntutan-tuntutan Id dengan realitas di dunia luar dan Superego adalah “polisi kepribadian yang mewakili dunia luar. Secara singkat, dalam psikoanalisis perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (Id), komponen psikologis (Ego) dan komponen sosial (Superego) sehingga dapat dikatakan kepribadian yang sehat adalah pribadi yang mampu menyeimbangkan komponen-komponen tersebut.
(Sumber :  Rochman, K.L. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto : Fajar Media Press)

2.      Aliran Behavioristik
Behavioralisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisa yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tampak. Menurut kaum behavioralis prilaku manusia dikendalikan oleh faktor lingkungan dan organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis. Sementara kaum empirismi mengatakan manusia tidak mempunyai warna mental.
           
3.      Aliran Humanistik
          Menurut Fromm pedoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internal dan individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan menyingkap seluruh kepribadian, tingkah laku yang menghasilkan rasa persetujuan dan kebahagiaan dari dalam. Jadi, kepribadian sehat dan produktif memimpin dan mengatur diri sendiri.
(Sumber : Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius)


         Menurut Abraham Maslow pribadi atau individu yang sehat berbeda, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif dengan orang-orang lain berhubung dengan apa yang mendorong mereka. Hal ini menyebabkan maslow mengemukakan teori radikal, dia menyebut teori ini “metamotivation”. Menurutnya orang-orang yang neourotis dan orang-orang yang memiliki kesehatan jiwa yang normal berjuang untuk memuaskan kebutuhan yang lebih rendah, sebaliknya orang-orang yang sangat sehat memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi : memenuhi potensi-potensi mereka dan mengetahui serta memahami dunia sekitar mereka. Dalam hal ini metamotivation  orang tidak berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan atau mereduksi tegangan. Tujuannya ialah memperkaya dan memperluas pengalaman hidup, meningkatkan kesenangan dan kegenbiraan yang luar biasa dalam hidup.

(Sumber: Schultz, Duane. 1991. Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius)

Tulisan 1 (Konsep Sehat, Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental, Pendekatan Kesehatan Mental)

Ψ Konsep Sehat → Berbicara manusia berarti berbicara pula mengenai kehidupan, sebab manusia merupakan makhluk hidup yang sejatinya akan selalu mempertahankan kehidupannya, oleh karena itu manusia juga terkait erat dengan masalah kesehatan. Maka dari itu perlu bagi kita mengetahui tentang konsep sehat.
Sehari-hari kita menggunakan istilah sehat wal afiat untuk menyebut kondisi kesehatan yang prima, tetapi jika kita merujuk kepada asal istilah itu yakni “as shihhah wa al ‘afiyah” di situ ada dua dimensi pengertian. Kata “Sehat” merujuk pada fungsi, sedangkan kata “afiat” merujuk kepada kesesuaian dengan maksud pencipta.
(Sumber :  Rochman, K.L. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto : Fajar Media Press)

Konsep sehat sendiri ditinjau berdasarkan sudut pandang yang berbeda dibagi menjadi dua:
1.  Konsep sehat dipandang dari sudut fisik secara individu dan
2.  Konsep sehat dipandang dari sudut ekologi
Konsep sehat secara fisik dan bersifat individu ialah “seseorang dikatakan sehat bila semua organ tubuh dapat berfungsi dalam batas-batas normal sesuai dengan umur dan jenis kelamin”. Kesulitan yang dihadapi konsep ini adalah penentuan “normal” masih belum dapat dibakukan
Konsep sehat berdasarkan ekologi ialah “sehat berarti proses penyesuaian antara individu dengan lingkungannya. Proses penyesuaian ini berjalan terus menerus dan berubah-ubah sesuai dengan perubahan lingkungan yang mengubah keseimbangan ekologi dan untuk mempertahankan kesehatannya orang dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan”. (Sumber : Dudiarto, Eko. & Dewi, Anggraeni. 2001. Pengantar Epidemologi.  Jakarta : penerbit Buku Kedokteran EGC)

Ψ Sejarah Kesehatan mental → Karena dari pembahasan diatas kita sudah mengetahui mengenai konsep sehat maka selanjutnya pembahasan akan beralih ke tema tentang kesehatan mental yang memang merupakan pembahasan pokok yang saya tulis kali ini.  Langgulung (dalam Rochman, L.k., 2010: 3) mengatakan secara umum secara historis kajian kesehatan mental dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pra-ilmiah dan periode ilmiah. Disini saya mencoba membahas beberapa periode tersebut secara ringkas.
1.  Periode Pra-ilmiah
      Sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme, awalnya  orang yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena Dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Kemudian pandangan ini berubah pada Zaman Hipocrates (460-467) menjadi naturalisme, pandangan naturalistik  ini kemudian dikembangkan oleh Galen yang selanjutnya banyak dipergunakan oleh orang-orang kristen. Seorang dokter dari Prancis bernama Philipe Pinel juga pernah menggunakan filsafat politik dan sosial untuk memecahkan problem penyakit mental.
2.  Periode Ilmiah
      Pada era ini, terjadi perubahan besar dalam memendang sikap dan pengobatan gangguan mental, dari yang tadinya bersifat irrasional seperti animisme atau tradisional menjadi ilmiah atau rasional. Itu semua terjadi ketika psikologi abnormal serta psikiatri mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush seorang staf medis Rumah Sakit Penisylvania melakukan usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang mengalami gangguan mental dengan memberikan motivasi untuk mau bekerja, rekreasi dan mencari kesenangan sehingga tidak ada lagi perlakuan diskriminatif dengan memenjarakan penderita gangguan mental di sel yang kurang akan ventilasi udara. Perkembangan psikologi abnormal serta psikiatri pada akhirnya juga melahirkan mental hygiene atau kesehatan mental yang dirintis oleh Dorothea Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers. Pada tahun 1909 kesehatan mental secara formal mulai muncul, hal tersebut diiringi dengan bermunculannya organisasi kesehatan mental yang terus bertambah pada tahun 1950, lalu terbentuklah beberapa gerakan yang dikembangkan melalui World Federation for Mental Health dan World Health Organization.
     (Sumber :  Rochman, K.L. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto : Fajar Media Press)

Ψ Pendekatan Kesehatan Mental → Dalam kesehatan mental ada beberapa para ahli yang mengemukakan semacam orientasi umum dan pola-pola wawasan kesehatan mental, salah satunya yaitu Saparinah Sardli (dalam Suroso, 2001: 132) yang mengemukakan tiga orientasi kesehatan mental.
1.  Orientasi Klasik
Seseorang dianggap sehat bila ia tidak mempunyai keluhan tertentu seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri atau perasaan tidak berguna yang semuanya menyembulkan perasaan sakit atau rasa tidak sehat, serta mengganggu efisiensi kegiatan sehari-hari.
2.  Orientasi Penyesuaian Diri
Seseorang dianggap sehat mental bila ia mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang-orang lain serta lingkungan sekitarnya
3.  Orientasi Pengembangan Diri
Seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri.
(Sumber :  Rochman, K.L. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto : Fajar Media Press)

Minggu, 20 Januari 2013

Sequel mini fiksi "Menemukannya (Kembali)"



           Jauh sebelum aku ada disini, dikota ini, Innsbruck, Austria. Aku ingat hari itu, hari dimana Tuhan mempertemukanku dengannya. saat itu rintik hujan dengan centilnya menari membasahi kerudung merah mudaku, setelah susah payah menyeruak rinai hujan dan menghindari kubangan air, akhirnya aku sampai juga di stasiun kereta dekat kampusku. Setibanya di stasiun, aku malah harus menerima kabar bahwa saat itu, kabel listrik yang mengaliri pasokan listrik Kereta Rel Listrik atau KRL putus akibat diterpa angin kencang yang datang bersamaan dengan hujan lebat, alhasil aku yang sudah terlanjur basah kuyup, memutar haluan mencari kendaraan alternatif lain untuk pulang kerumah. Nasib baik hari itu aku sedang tidak sendirian, ada Rara yang memang sudah terbiasa naik kendaraan umum lainnya selain kereta. Akhirnya aku dan Rara pun memutuskan untuk beralih naik bis dan darisanalah semuanya bermula, pertemuan itu. Sebelum sempat keluar stasiun menuju terminal bis, aku berpapasan dengannya, laki-laki yang pada akhirnya aku tahu bahwa ‘dia ‘ adalah sahabat lama Rara. Kebetulan rumahnya satu arah dengan rumahku dan Rara, maka jadilah hari itu kami bertiga, aku, Rara dan ‘dia’ pulang bersama dengan menaiki bis. Sepanjang perjalanan aku banyak bertukar cerita dengannya, sementara Rara yang berdiri sedikit jauh dari aku dan ‘dia’, terlihat sangat lelah, jadi Rara lebih memilih untuk diam dan sedikit-sedikit memejamkan matanya ketimbang mengobrol denganku dan sahabat lamanya itu. Entah ada apa denganku saat itu, ketika mata dengan bola mata coklat pekatnya begitu hangat menerima kehadiranku dan senyum yang selalu mengembang di wajahnya setiap kali mendengarku bercerita, sungguh membuatku merasakan sesuatu, yang aku sendiri tidak dapat menjelaskannya.
            Terlepas dari pertemuanku dengannya dihari itu, aku juga banyak mengetahui tentang dirinya dari Rara, sahabatku yang sekaligus sahabat lamanya. Rara mengatakan padaku kalau laki-laki itu, sahabat lamanya yang sempurna bisa membuat pipiku memerah jika aku mendengar namanya disebut, sangatlah pintar dan cerdas. Rara juga bilang kalau ‘dia’ salah satu mahasiswa jurusan arsitektur dikampusku dan sebenarnya diakhir semester dua dia juga mendapat kesempatan yang sama denganku untuk memperoleh beasiswa unggulan kampusku, bedanya dia sukses lolos semua tes beasiswa itu, sementara aku tidak. tapi lolos tes bukan berarti membulatkan keputusannya untuk mengambil beasiswa tersebut, dia justru malah mengundurkan diri. begitulah hidup, terkadang disaat kita sangat menginginkan sesuatu, sesuatu yang kita inginkan tersebut malah tidak bisa kita gapai atau kita dapatkan, namun sebaliknya, kadang kala dalam hidup kita ada juga seseorang yang tidak begitu menginginkan sesuatu yang teramat kita inginkan itu, tapi justru dialah yang berhasil menggapai atau mendapatkannya. Marah? Yah itu pasti yang kalian rasakan pertama kali, menganggap seseorang itu tidak bersyukur dengan apa yang sudah ia dapatkan, hmm padahal jika kita mau sedikit berpikir, tidak semua apa yang kita anggap baik juga baik menurut Tuhan, ada masanya dimana yang menurut kita buruk adalah yang terbaik untuk kita, karena sungguh hanya Tuhanlah yang maha mengetahui.
            Sejak pertemuanku dengannya di hari itu, aku jadi sering sekali bertemu dengannya, padahal sebelum hari pertemuan itu, aku tidak pernah sama sekali melihat wajahnya dikampus, entah karena aku yang tidak menyadarinya atau entah apakah ada skenario tertentu yang sedang Tuhan siapkan dibalik itu semua. Yang jelas pertemuanku di stasiun dengannya ketika angin dan hujan lebat sukses memutuskan kabel aliran listrik kereta, sempurna membuat aku dan ‘dia’ semakin dekat. Aku dan ‘dia’ jadi sering pulang pergi bersama ketika kuliah, tidak hanya itu saja, akupun banyak belajar darinya. ‘dia’, laki-laki yang tidak sengaja dipertemukan denganku, ternyata selain berstatus sebagai mahasiswa, juga berstatus sebagai seorang freelancer di sebuah perusahaan besar Ibu kota. Hebat?yaa sangat hebat, ditengah kesibukannya kuliah, dia masih bisa membagi waktunya untuk bekerja, demi menutupi biaya kuliahnya. Sebenarnya dia tidak berasal dari keluarga sederhana atau malah menengah bawah, melainkan sebaliknya. Ayahnya seorang pengusaha pemilik toko meubel terbesar dikotaku, sementara ibunya adalah pemilik butik yang menjadi salah satu langganan para artis Ibu kota. Tadinya aku sempat heran, kenapa ‘dia’ mau bersusah payah bekerja untuk membiayai kuliahnya, padahal jika dia mau, orang tuanya tidak hanya sanggup untuk membiayai kuliahnya tapi juga sanggup membelikannya mobil mewah keluaran terbaru. Hanya satu jawabannya untuk itu semua “Aku ingin menaklukan dunia, bukan dunia yang menaklukan aku”. Yaa jika dia menyerah dengan gelimang harta yang dimiliki kedua orang tuanya, maka dunia sempurna menaklukannya.
            Bukan itu saja pelajaran yang bisa aku dapatkan darinya, karena aku juga dapat belajar tentang bagaimana menghargai seseorang dari dirinya. Kau tahu?sejak aku bertemu dengannya tidak pernah sedikitpun dia menatapku tajam, layaknya pandangan laki-laki yang sedang dekat dengan seorang perempuan, aku hanya bisa tahu bahwa dia menerima kehadiranku dengan hangat dari sedikit tatapan matanya ketika tersenyum padaku, tatapan mata yang bahkan kurang dari lima detik. Setelah itu dia seperti enggan menatap mataku lama-lama. Belakangan aku tahu dari Rania, itu ‘dia’ lakukan demi menjaga kesucian para perempuan yang ia kenal ataupun tidak dari pandangan nista, pandangan yang tidak seharusnya ada. Soal kenapa dia selalu menawariku untuk pulang atau pergi kuliah bersama, itu tidak lebih hanya karena ia juga ingin menjagaku, karena memang jadwal kuliah yang mengharuskanku berangkat pagi dan pulang malam, membuatku rentan mengalami tindak kejahatan. Setelah mengetahui lebih banyak tentang ‘dia’, entah kenapa perasaan itu justru semakin kuat aku rasakan, perasaan yang sempurna membuat dadaku sesak setiap kali bertemu dengannya. Tuhan, sungguh jangan biarkan perasaan ini tumbuh sebelum waktunya.
            Tidak terasa hampir enam semester aku lalui. Aku ingat ketika itu aku mengikuti seleksi beasiswa kembali, kali ini seleksi beasiswa yang diadakan oleh kedutaan luar negeri Indonesia, saat itu aku mengikuti beasiswa tersebut berdua dengan ‘dia’, ‘dia’ yang selama hampir enam semester selalu ada untuk memberiku semangat dan pelajaran. Di hari itu akhirnya aku pun tahu, kenapa dulu dia mengundurkan diri dari beasiswa unggulan kampusku, itu semua karena dia ingin fokus pada beasiswa kedutaan luar negeri itu, karena mimpinya memanglah menuntut ilmu di salah satu universitas favorit di Melbourne, Australia, Monash University. Sebenarnya aku sedikit sedih ketika mengetahuinya, bagaimana tidak? aku akan terpisahkan oleh jarak yang sangat jauh dengannya jika kami sama-sama lolos seleksi beasiswa itu, karena aku memilih untuk melanjutkan kuliahku dengan beasiswa tersebut di Innsbruck, Austria. Cara kami dalam menuntut ilmu boleh berbeda, dia memilih arsitektur sementara aku psikologi, dia memilih Australia sedangkan aku Austria, dia memilih Monash University dan aku Universitat Innsbruck, tapi aku juga ‘dia’ punya satu tujuan yang sama yaitu bisa memberikan ilmu kami untuk menumbuhkan semangat dan kehidupan yang lebih baik untuk saudara-saudara kami di gaza, Palestina. Walaupun lagi-lagi dengan cara yang berbeda, jika dia ingin membangun kamp pengungsian yang jauh lebih layak dengan sistem sanitasi yang baik dan paling tidak bisa membangun sebuah Rumah Sakit sederhana disana, aku ingin setidaknya bisa menenmani para anak-anak yang telah kehilangan ayah, ibu, sudara atau bahkan bagian dari tubuh mereka untuk sekedar menumbuhkan motivasi mereka. Aku tahu mereka memanglah sangat kuat, tapi nyatanya mereka masihlah anak-anak, dimana tidak seharusnya hal-hal keji dan mengerikan sudah harus mereka hadapi dan telan didalam memori mereka. Aku ingin berbagi pada mereka, membacakan mereka dongeng sebelum tidur, mengajak mereka bermain dan tentunya bersama-sama melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Sungguh semoga Tuhan memudahkan kami.
            Setelah aku selesai menjalani tes beasiswa, aku mampir sebentar ke kostan Rara untuk sekedar sedikit bercerita. Ketika itu lagi-lagi aku tahu tentang ‘dia’ yang tidak aku ketahui tapi Rara ketahui. Saat semester satu dulu, ‘dia’ pernah mengatakan pada Rara bahwa ‘dia’ menyukai teman sekelasnya, tapi ‘dia’ belum berani untuk mengutarakan perasaannya, meski dia tahu gadis itu juga menyukainya, alasannya selain karena dia tidak ingin pacaran, juga karena gadis yang ‘dia’ sukai itu belumlah berhijab, menurutnya hijab adalah usaha seorang wanita untuk menjaga kesuciannya, maka dari itu dia ingin gadis yang dia sukai itu menetapkan hatinya dulu untuk berhijab, baru memantapkan perasaannya untuk ‘dia’. Jujur seketika itu hatiku seperti dihujami ratusan jarum kecil, begitu sakit. Hari itupun aku bertanya dalam hati “Apakah hingga kini gadis itu masih ada dihatinya?”.
            Waktu berjalan begitu cepat, genap delapan semester berhasil aku lalui. Aku lulus dengan nilai yang amat memuaskan, begitupun dengan ‘dia’. Tepat satu hari setelah aku dan ‘dia’ di wisuda, kami menerima kiriman amplop berwarna coklat dengan garis berwarna merah, putih dan biru di pinggirnya. Yaa amplop itu adalah surat yang menyatakan bahwa kami berhasil lolos seleksi beasiswa dan kami sukses mendapatkan beasiswa yang kami inginkan. Sebenarnya ketika itu aku tidak tahu apakah aku harus senang atau tidak, karena itu berarti hari perpisahanku dengnnya akan semakin dekat. Tapi karena impianku adalah bisa menuntut ilmu dengan beasiswa yang aku dapatkan karena usahaku sendiri, maka bulatlah pikiranku untuk sempurna hanya memikirkan hal yang dapat aku rengkuh dimasa masa depan nanti, bukan memikirkan ‘dia’ dan perasaanku yang masih belum menemui kejelasan. Karena hidupku menyangkut orang banyak, bukan hanya menyangkut hati atau perasaanku padanya saja. Dan perpisahan itupun sempurna terjadi. Burung besi membawaku terbang ke Austria, sementara ‘dia’ dibawa terbang ke Australia.
            Tidak terasa dua tahun sudah aku jalani, sarjana magisterpun berhasil aku sandang di Innsbruck. Selama dua tahun itu pula aku sukses dibuat kehilangan kontak dengan ‘dia’, tapi lagi-lagi aku berpikir, untuk apa kini aku memikirkannya lagi, untuk apa kini aku mengingat kenangan itu lagi, bukankah belum tentu kini dia sedang memikirkan dan mengingatku yang sedari dulu kami bertemu hingga sekarang mungkin aku masih menjadi seorang sahabat baginya, tidak ada perasaan lebih darinya untukku. Jika kini aku memikirkannyapun, maka itu hanya sebatas perasaan seorang sahabat yang mengkhawatirkan keadaan sahabatnya yang jauh disana, karena biar bagaimanapun kami pernah berjuang bersama untuk menggapai mimpi kami masing-masing. Dua tahun tanpa kabar, bukan berarti aku berhenti melanjutkan hidup, sebab ini kehidupan bukanlah sebuah sinetron. Lima bulan setelah pulang ke Indonesia aku memutuskan untuk membangun sebuah klinik psikologi, ini tidak lepas dari backgroundku yang memang seorang sarjana psikologi dengan sub jurusan Clinical Child Pychology. Sukses berkarir di klinik tidak lantas membuatku lupa dengan impian besarku untuk bisa ke Gaza, Palestina. Setahun berkarir, akupun memutuskan untuk pergi menjadi relawan ke Gaza, dengan bekal ilmu yang kupunya aku berharap Tuhan selalu menyertai dan melindungiku.
            Hari itu akhirnya aku sampai di gaza, setelah sebelumnya aku melewati perjalanan yang terasa amat panjang dan melelahkan, sebab bukan hanya gelombang laut atau cuaca buruk yang aku temui diperjalanan, tapi juga gelombang ancaman dan todongan senjata api. Terlepas dari itu semua, aku bersyukur karena hari itu Tuhan mengizinkanku untuk menginjakan kaki di Gaza. Akupun segera bertindak cepat, ketika itu aku diberi tugas menjaga anak-anak di salah satu bangsal Rumah Sakit Gaza yang saat itu memang sedang banyak mendapat gempuran. Sampai akhirnya kami para relawan dari berbagai negara sepakat untuk memindahkan para anak-anak tersebut ke tempat yang lebih aman, keluar rumah sakit. Dengan sigap aku mengevakuasi anak-anak dengan bermacam kondisi, mulai dari yang kehilangan kaki hingga yang kehilangan kedua matanya akibat serangan membabi buta. Hari itu aku sempat lega karena telah berhasil mengevakuasi seluruh anak-anak ketempat yang jauh lebih aman, tapi seketika semuanya berubah saat kulihat kedua teman relawanku memegangi erat tubuh seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh thaunan yang terus menjerit histeris karena ternyata boneka kesayangannya, boneka peninggalan Almarhumah ibunya terjatuh tepat dipintu keluar rumah sakit. Tanpa pikir panjang akupun berlari secepat mungkin menuju rumah sakit, sambil berharap lariku akan jauh lebih cepat ketimbang rudal yang akan menghujam rumah sakit tersebut. Namun apa daya, rudal biadab itu sempurna mendahuluiku saat aku sudah tepat kira-kira tiga meter dari rumah sakit. Splassshhh!!!. Seketika tubuhku terasa remuk, kepalaku seperti terkoyak, bau mesiu menyengat penciumanku, dadaku sesak, pengelihatanku kabur. Saat itu aku memohon agar Tuhan menguatkanku, hingga datang seorang laki-laki dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya menghampiriku, menggendong tubuh lemahku. Sungguh meski pengelihatanku saat itu kabur, tapi aku lihat dan aku ingat, laki-laki itu memiliki mata yang sama dengan ‘dia’, bola mata coklat besar yang terlihat begitu hangat. Tuhan apakah mungkin itu ‘dia’?. Sekejap setelah itu semua gelap.
            Beberapa jam kemudian aku tersadar. Tubuhku teramat sakit bila digerakan terutama pada bagian tangan sebelah kiri. Dokter mengatakan hampir seluruh tubuhku dipenuhi serpihan material bangunan akibat ledakan rudal dan yang paling parah terkena adalah tangan sebelah kiri, bahkan dokter nyaris saja mengamputasinya, namun aku bernasib baik, karena serpihan itu tak sampai masuk kedalam kulit bagian dermisku, luka yang adapun tidak sampai menginfeksi sehingga lukaku meski parah, masih bisa untuk diobati. Aku lega, sungguh sangat lega. Tapi lagi-lagi aku teringat mata itu, siapa sebenarnya yang ada dibalik masker itu, akupun berharap semoga Tuhan menunjukan jalan bagiku.
            Menjalani perawatan di kamp pengungsian membuatku bosan dan merasa tidak berguna, hanya berbaring ditempat tidur tanpa melakukan apapun, sungguh bukan itu tujuanku berada disini saat itu. Akhirnya setelah seminggu menjalani perawatan, aku meminta perawat membantuku duduk di kursi roda, akupun berkeliling dan bermain bersama anak-anak dipengungsian, membantu menyiapkan makanan di dapur umum dan membagikannnya pada pengungsi, seolah lupa dengan kejadian satu minggu yang lalu. Ketika semua selesai, sehabis Isya aku membawa tubuhku dengan kursi roda ke tepi tebing dekat tenda-tenda pengungsian, perlahan aku hirup udara malam dan berharap semua akan baik-baik saja, aku yakin sepanjang niat kita baik, maka akan selalu ada jalan menuju seribu kemudahan. Malam itu aku ingat, sangat ingat, ketika teman relawanku mengatakan ada seorang arsitek dari Indonesia yang akan membangun kamp pengungsian baru, temanku juga mengatakan bahwa laki-laki itulah yang sudah menolongku dari ledakan rudal di rumah sakit, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah barat, agak sedikit jauh dari pengungsian, tepat dimana seseorang yang ia maksud berada. Laki-laki dengan celana coklat serta baju putih lengkap dengan rompi safari coklatnya.
            Malam itu tanpa kuduga, situasi kembali mencekam, rudal-rudal, bom dan lainnya semakin hingar-bingar membalut kegelapan malam itu. Jelas yaa sangat jelas, tepat ketika sebuah bom membelah gelapnya langit malam, semburat cahayanya sempurna memperlihatkan wajah laki-laki itu, wajah laki-laki dimana delapan tahun yang lalu sempurna menyeruak dalam hatiku. Ingin aku menyapanya, namun belum sempat aku menyapanya, teman relawanku dengan sigap mendorong kursi rodaku menjauh darinya. “Dasar bodoh, apa kali ini kau sudah benar-benar ingin mati ha?!”. Ucapnya dengan nada tinggi, karena memang rudal-rudal itu semakin mengincar kami di pengungsian. Akupun kembali kehilangannya. Sampai semburat cahaya lagi-lagi memperlihatkan keberadaannya, meski kali itu aku hanya bisa melihat sebatas punggung berbalut rompi safari coklatnya saja, karena memang ‘dia’  berada jauh di depanku saat itu. ‘dia’ bukannya lari menyelamatkan diri, justru menentang maut dengan menghampiri pusat terjadinya ledakan akibat rudal. Akupun berusaha memanggil namanya sekeras mungkin yang aku bisa, tapi terlambat. Splassshhh!! Semburat cahaya kembali muncul, sepersekian detik saja, rudal menghantam daerah dekat tubuhnya berada. Tuhan lindungi ‘dia’, selamatkan ‘dia’, sungguh Tuhan aku sanggup dengan rasa sakit disekujur tubuhku ini, tapi aku tidak akan sanggup jika harus melihat tubuhnya terkulai kaku penuh luka dan detak jantungnya tak dapat lagi kudengar justru dihari ketika aku menemukannya kembali, Muas Albany.
           
           
            

Minggu, 23 Desember 2012

Mini FIKSI "Merakit Mimpi (kembali)"




Hari ini aku sempurna dibuat sibuk menatap butiran salju yang mengembun di kaca jendela kampusku, Universitat Innsbruck. Sulit untukku mempercayainya, ini bagiku bagaikan sebuah mimpi. Saking tak percayanya aku merasa sangat takut, takut jika semua ini memang hanyalah efek ilusi dari mimpi besarku. Dari dulu hampir semua orang yang mengenalku menjuluki aku si “pemimpi besar”, yaa si pemimpi yang hanya bisa terus bermimpi tanpa bisa mewujudkan mimpinya menjadi sebuah kenyataan. Menyedihkan memang, aku berasa menjadi pecundang sejati.
Memiliki label “pemimpi besar” atau merasa menjadi pecundang sejati, itu bukan berarti aku hidup tanpa perjuangan, hanya bermalas-malasan lalu berharap hidupku akan berubah jadi indah dengan sendirinya, berharap dunia terbalik dan menjadikanku gadis tersukses dengan segudang prestasi sejagad raya. Bukan, sungguh bukan begitu hari-hari dihidupku. Memiliki sebuah mimpi bagiku merupakan satu hal yang istimewa, kenapa istimewa? Sederhana saja jawabannya karena dengan bermimpi aku merasa hidup. Sesederhana ketika kalian flu, mendapatkan sedikit saja ruang untuk menghirup udara, maka udara itu akan sangat membantu untuk nafas kalian yang berikutnya meski hidung akan memerah, tapi setidaknya itu sudah cukup memicu kalian untuk menghirup udara yang lebih banyak lagi. Begitulah mimpi, ketika kalian merasa terjerembab dalam posisi paling bawah, saat dirasa tak ada lagi yang dapat mengerti apa yang kalian rasakan, ketika merasa dunia semakin nyata menunjukan kerikil kepedihan dan detik dimana kita meyakini bahwa semua orang telah berubah, berubah menjauh. maka disanalah mimpi itu ada. Membuat kita mampu merengkuh banyak hal dikemudian hari.
Keyakinan akan  mimpi besarku membuat aku yang hanyalah seorang gadis pemalu, menjadi seorang gadis yang penuh semangat dengan bendera optimisme dalam hati. Tubuhku yang kini aku bawa menginjak tanah di negeri orang sungguh bukan karena aku pintar, cerdas atau karena hanya kebetulan beruntung. Ini sempurna kebaikan Tuhan untukku atas mimpi-mimpi dan tentunya “usaha besar”ku . sebenarnya semua berawal dari impianku untuk bisa memdapatkan beasiswa yang memang sejak semester pertama aku masuk kuliah, sudah sangat aku inginkan. Dari awal masuk kuliah aku mati-matian belajar demi mengejar IP minimal 3,75 saat naik ke tingkat dua yang menjadi salah satu syarat untuk memperoleh beasiswa itu. Hal baik pun terjadi, buah dari belajar mati-matianku, IPku bulat 3,75. Aku sukses dipanggil untuk menjalani serangkaian tes beasiswa karena memang yang Ipnya 3,75 bukan hanya satu atau dua orang saja, sedangkan kuota yang ada untuk beasiswa itu hanya 10 kursi. Sukses?yaa aku sukses dipanggil, tapi tidak ketika tes TOEFL.
TOEFL dibawah standar seolah menjadi malapetaka untukku, perjuanganku, begadangku selamana ini, semua terasa sia-sia. Tiba-tiba aku tersadar, itulah buah kesombonganku, tak pernah mau jika disusruh ikut kursus TOEFL dengan alasan “lelah”. Sungguh mimpi itu sesungguhnya tak mengenal lelah. Sepersekian detik setelah menyadari hal bodoh yang menggugurkan mimpiku, aku pun meneteskan bulir air yang mebulat tepat diatas meja belajarku. Aku akui saat itu semangatku runtuh, melangkahkan kaki hanya karena aku manusia, tanpa mengerti untuk apa aku melangkah. Begitu seterusnya hingga setengah semester aku lalui di semester tiga.
Pagi itu aku ingat, amat sangat ingat setelah sebelumnya aku harus susah payah menuju kampus, dua jam berkutat dengan macet. Untuk pertama kalinya seorang profesor sekaligus guru besar mengajar dikelasku, profesor bertubuh tegap dengan sedikit uban yang menyembul di sela-sela rambut hitamnya itu sempurna terlihat bersahabat, terlebih senyumnya begitu hangat. Tapi bukan itu, bukan itu yang lantas membuatku mengagumi sosoknya sebagai profesor sekaligus guru besar, malainkan semangat serta kecerdasannya dalam memandang dunia. Dulu beliau sama sepertiku, hanyalah seorang mahasiswa biasa, yang membedakannya dengan mahasiswa lain adalah mimpi dan semangat yang ia miliki. Tiga jam perkuliahan benar-benar aku telan matang-matang lalu kucerna baik-baik kedalam otakku, banyak yang beliau ceritakan terlebih mengenai salah satu universitas ternama di austria, universitat innsbruck. Keindahan gunung alpen yang menjulang cantik sebagai latar kampus itu, yang beliau ceritakan sekaligus gambarkan melalui foto, sungguh membuat hatiku bergetar, hingga semburat mimpi mulai terbit “Kelak aku yang akan ada disana”. Tak lama selongsong kata-kata beliau pun menjadi sangat amat melekat dalam otakku “Anything is Posible”. Itulah kunci mimpiku berikutnya. Di hari itu juga aku memohon, memohon pada Tuhan agar mengizinkan dan meridhoi aku untuk merakit mimpi (kembali). Sesungguhnya mimpi itu besar karena usaha yang kita lakukan, bukan karena sejauh mana kita mampu memimpikan hal yang dianggap besar. Sekecil apapun mimpi kita, akan bisa sangat besar jika kita bersungguh-sungguh meyakini, menjalani dan mengusahakannya J