Minggu, 20 Januari 2013

Sequel mini fiksi "Menemukannya (Kembali)"



           Jauh sebelum aku ada disini, dikota ini, Innsbruck, Austria. Aku ingat hari itu, hari dimana Tuhan mempertemukanku dengannya. saat itu rintik hujan dengan centilnya menari membasahi kerudung merah mudaku, setelah susah payah menyeruak rinai hujan dan menghindari kubangan air, akhirnya aku sampai juga di stasiun kereta dekat kampusku. Setibanya di stasiun, aku malah harus menerima kabar bahwa saat itu, kabel listrik yang mengaliri pasokan listrik Kereta Rel Listrik atau KRL putus akibat diterpa angin kencang yang datang bersamaan dengan hujan lebat, alhasil aku yang sudah terlanjur basah kuyup, memutar haluan mencari kendaraan alternatif lain untuk pulang kerumah. Nasib baik hari itu aku sedang tidak sendirian, ada Rara yang memang sudah terbiasa naik kendaraan umum lainnya selain kereta. Akhirnya aku dan Rara pun memutuskan untuk beralih naik bis dan darisanalah semuanya bermula, pertemuan itu. Sebelum sempat keluar stasiun menuju terminal bis, aku berpapasan dengannya, laki-laki yang pada akhirnya aku tahu bahwa ‘dia ‘ adalah sahabat lama Rara. Kebetulan rumahnya satu arah dengan rumahku dan Rara, maka jadilah hari itu kami bertiga, aku, Rara dan ‘dia’ pulang bersama dengan menaiki bis. Sepanjang perjalanan aku banyak bertukar cerita dengannya, sementara Rara yang berdiri sedikit jauh dari aku dan ‘dia’, terlihat sangat lelah, jadi Rara lebih memilih untuk diam dan sedikit-sedikit memejamkan matanya ketimbang mengobrol denganku dan sahabat lamanya itu. Entah ada apa denganku saat itu, ketika mata dengan bola mata coklat pekatnya begitu hangat menerima kehadiranku dan senyum yang selalu mengembang di wajahnya setiap kali mendengarku bercerita, sungguh membuatku merasakan sesuatu, yang aku sendiri tidak dapat menjelaskannya.
            Terlepas dari pertemuanku dengannya dihari itu, aku juga banyak mengetahui tentang dirinya dari Rara, sahabatku yang sekaligus sahabat lamanya. Rara mengatakan padaku kalau laki-laki itu, sahabat lamanya yang sempurna bisa membuat pipiku memerah jika aku mendengar namanya disebut, sangatlah pintar dan cerdas. Rara juga bilang kalau ‘dia’ salah satu mahasiswa jurusan arsitektur dikampusku dan sebenarnya diakhir semester dua dia juga mendapat kesempatan yang sama denganku untuk memperoleh beasiswa unggulan kampusku, bedanya dia sukses lolos semua tes beasiswa itu, sementara aku tidak. tapi lolos tes bukan berarti membulatkan keputusannya untuk mengambil beasiswa tersebut, dia justru malah mengundurkan diri. begitulah hidup, terkadang disaat kita sangat menginginkan sesuatu, sesuatu yang kita inginkan tersebut malah tidak bisa kita gapai atau kita dapatkan, namun sebaliknya, kadang kala dalam hidup kita ada juga seseorang yang tidak begitu menginginkan sesuatu yang teramat kita inginkan itu, tapi justru dialah yang berhasil menggapai atau mendapatkannya. Marah? Yah itu pasti yang kalian rasakan pertama kali, menganggap seseorang itu tidak bersyukur dengan apa yang sudah ia dapatkan, hmm padahal jika kita mau sedikit berpikir, tidak semua apa yang kita anggap baik juga baik menurut Tuhan, ada masanya dimana yang menurut kita buruk adalah yang terbaik untuk kita, karena sungguh hanya Tuhanlah yang maha mengetahui.
            Sejak pertemuanku dengannya di hari itu, aku jadi sering sekali bertemu dengannya, padahal sebelum hari pertemuan itu, aku tidak pernah sama sekali melihat wajahnya dikampus, entah karena aku yang tidak menyadarinya atau entah apakah ada skenario tertentu yang sedang Tuhan siapkan dibalik itu semua. Yang jelas pertemuanku di stasiun dengannya ketika angin dan hujan lebat sukses memutuskan kabel aliran listrik kereta, sempurna membuat aku dan ‘dia’ semakin dekat. Aku dan ‘dia’ jadi sering pulang pergi bersama ketika kuliah, tidak hanya itu saja, akupun banyak belajar darinya. ‘dia’, laki-laki yang tidak sengaja dipertemukan denganku, ternyata selain berstatus sebagai mahasiswa, juga berstatus sebagai seorang freelancer di sebuah perusahaan besar Ibu kota. Hebat?yaa sangat hebat, ditengah kesibukannya kuliah, dia masih bisa membagi waktunya untuk bekerja, demi menutupi biaya kuliahnya. Sebenarnya dia tidak berasal dari keluarga sederhana atau malah menengah bawah, melainkan sebaliknya. Ayahnya seorang pengusaha pemilik toko meubel terbesar dikotaku, sementara ibunya adalah pemilik butik yang menjadi salah satu langganan para artis Ibu kota. Tadinya aku sempat heran, kenapa ‘dia’ mau bersusah payah bekerja untuk membiayai kuliahnya, padahal jika dia mau, orang tuanya tidak hanya sanggup untuk membiayai kuliahnya tapi juga sanggup membelikannya mobil mewah keluaran terbaru. Hanya satu jawabannya untuk itu semua “Aku ingin menaklukan dunia, bukan dunia yang menaklukan aku”. Yaa jika dia menyerah dengan gelimang harta yang dimiliki kedua orang tuanya, maka dunia sempurna menaklukannya.
            Bukan itu saja pelajaran yang bisa aku dapatkan darinya, karena aku juga dapat belajar tentang bagaimana menghargai seseorang dari dirinya. Kau tahu?sejak aku bertemu dengannya tidak pernah sedikitpun dia menatapku tajam, layaknya pandangan laki-laki yang sedang dekat dengan seorang perempuan, aku hanya bisa tahu bahwa dia menerima kehadiranku dengan hangat dari sedikit tatapan matanya ketika tersenyum padaku, tatapan mata yang bahkan kurang dari lima detik. Setelah itu dia seperti enggan menatap mataku lama-lama. Belakangan aku tahu dari Rania, itu ‘dia’ lakukan demi menjaga kesucian para perempuan yang ia kenal ataupun tidak dari pandangan nista, pandangan yang tidak seharusnya ada. Soal kenapa dia selalu menawariku untuk pulang atau pergi kuliah bersama, itu tidak lebih hanya karena ia juga ingin menjagaku, karena memang jadwal kuliah yang mengharuskanku berangkat pagi dan pulang malam, membuatku rentan mengalami tindak kejahatan. Setelah mengetahui lebih banyak tentang ‘dia’, entah kenapa perasaan itu justru semakin kuat aku rasakan, perasaan yang sempurna membuat dadaku sesak setiap kali bertemu dengannya. Tuhan, sungguh jangan biarkan perasaan ini tumbuh sebelum waktunya.
            Tidak terasa hampir enam semester aku lalui. Aku ingat ketika itu aku mengikuti seleksi beasiswa kembali, kali ini seleksi beasiswa yang diadakan oleh kedutaan luar negeri Indonesia, saat itu aku mengikuti beasiswa tersebut berdua dengan ‘dia’, ‘dia’ yang selama hampir enam semester selalu ada untuk memberiku semangat dan pelajaran. Di hari itu akhirnya aku pun tahu, kenapa dulu dia mengundurkan diri dari beasiswa unggulan kampusku, itu semua karena dia ingin fokus pada beasiswa kedutaan luar negeri itu, karena mimpinya memanglah menuntut ilmu di salah satu universitas favorit di Melbourne, Australia, Monash University. Sebenarnya aku sedikit sedih ketika mengetahuinya, bagaimana tidak? aku akan terpisahkan oleh jarak yang sangat jauh dengannya jika kami sama-sama lolos seleksi beasiswa itu, karena aku memilih untuk melanjutkan kuliahku dengan beasiswa tersebut di Innsbruck, Austria. Cara kami dalam menuntut ilmu boleh berbeda, dia memilih arsitektur sementara aku psikologi, dia memilih Australia sedangkan aku Austria, dia memilih Monash University dan aku Universitat Innsbruck, tapi aku juga ‘dia’ punya satu tujuan yang sama yaitu bisa memberikan ilmu kami untuk menumbuhkan semangat dan kehidupan yang lebih baik untuk saudara-saudara kami di gaza, Palestina. Walaupun lagi-lagi dengan cara yang berbeda, jika dia ingin membangun kamp pengungsian yang jauh lebih layak dengan sistem sanitasi yang baik dan paling tidak bisa membangun sebuah Rumah Sakit sederhana disana, aku ingin setidaknya bisa menenmani para anak-anak yang telah kehilangan ayah, ibu, sudara atau bahkan bagian dari tubuh mereka untuk sekedar menumbuhkan motivasi mereka. Aku tahu mereka memanglah sangat kuat, tapi nyatanya mereka masihlah anak-anak, dimana tidak seharusnya hal-hal keji dan mengerikan sudah harus mereka hadapi dan telan didalam memori mereka. Aku ingin berbagi pada mereka, membacakan mereka dongeng sebelum tidur, mengajak mereka bermain dan tentunya bersama-sama melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Sungguh semoga Tuhan memudahkan kami.
            Setelah aku selesai menjalani tes beasiswa, aku mampir sebentar ke kostan Rara untuk sekedar sedikit bercerita. Ketika itu lagi-lagi aku tahu tentang ‘dia’ yang tidak aku ketahui tapi Rara ketahui. Saat semester satu dulu, ‘dia’ pernah mengatakan pada Rara bahwa ‘dia’ menyukai teman sekelasnya, tapi ‘dia’ belum berani untuk mengutarakan perasaannya, meski dia tahu gadis itu juga menyukainya, alasannya selain karena dia tidak ingin pacaran, juga karena gadis yang ‘dia’ sukai itu belumlah berhijab, menurutnya hijab adalah usaha seorang wanita untuk menjaga kesuciannya, maka dari itu dia ingin gadis yang dia sukai itu menetapkan hatinya dulu untuk berhijab, baru memantapkan perasaannya untuk ‘dia’. Jujur seketika itu hatiku seperti dihujami ratusan jarum kecil, begitu sakit. Hari itupun aku bertanya dalam hati “Apakah hingga kini gadis itu masih ada dihatinya?”.
            Waktu berjalan begitu cepat, genap delapan semester berhasil aku lalui. Aku lulus dengan nilai yang amat memuaskan, begitupun dengan ‘dia’. Tepat satu hari setelah aku dan ‘dia’ di wisuda, kami menerima kiriman amplop berwarna coklat dengan garis berwarna merah, putih dan biru di pinggirnya. Yaa amplop itu adalah surat yang menyatakan bahwa kami berhasil lolos seleksi beasiswa dan kami sukses mendapatkan beasiswa yang kami inginkan. Sebenarnya ketika itu aku tidak tahu apakah aku harus senang atau tidak, karena itu berarti hari perpisahanku dengnnya akan semakin dekat. Tapi karena impianku adalah bisa menuntut ilmu dengan beasiswa yang aku dapatkan karena usahaku sendiri, maka bulatlah pikiranku untuk sempurna hanya memikirkan hal yang dapat aku rengkuh dimasa masa depan nanti, bukan memikirkan ‘dia’ dan perasaanku yang masih belum menemui kejelasan. Karena hidupku menyangkut orang banyak, bukan hanya menyangkut hati atau perasaanku padanya saja. Dan perpisahan itupun sempurna terjadi. Burung besi membawaku terbang ke Austria, sementara ‘dia’ dibawa terbang ke Australia.
            Tidak terasa dua tahun sudah aku jalani, sarjana magisterpun berhasil aku sandang di Innsbruck. Selama dua tahun itu pula aku sukses dibuat kehilangan kontak dengan ‘dia’, tapi lagi-lagi aku berpikir, untuk apa kini aku memikirkannya lagi, untuk apa kini aku mengingat kenangan itu lagi, bukankah belum tentu kini dia sedang memikirkan dan mengingatku yang sedari dulu kami bertemu hingga sekarang mungkin aku masih menjadi seorang sahabat baginya, tidak ada perasaan lebih darinya untukku. Jika kini aku memikirkannyapun, maka itu hanya sebatas perasaan seorang sahabat yang mengkhawatirkan keadaan sahabatnya yang jauh disana, karena biar bagaimanapun kami pernah berjuang bersama untuk menggapai mimpi kami masing-masing. Dua tahun tanpa kabar, bukan berarti aku berhenti melanjutkan hidup, sebab ini kehidupan bukanlah sebuah sinetron. Lima bulan setelah pulang ke Indonesia aku memutuskan untuk membangun sebuah klinik psikologi, ini tidak lepas dari backgroundku yang memang seorang sarjana psikologi dengan sub jurusan Clinical Child Pychology. Sukses berkarir di klinik tidak lantas membuatku lupa dengan impian besarku untuk bisa ke Gaza, Palestina. Setahun berkarir, akupun memutuskan untuk pergi menjadi relawan ke Gaza, dengan bekal ilmu yang kupunya aku berharap Tuhan selalu menyertai dan melindungiku.
            Hari itu akhirnya aku sampai di gaza, setelah sebelumnya aku melewati perjalanan yang terasa amat panjang dan melelahkan, sebab bukan hanya gelombang laut atau cuaca buruk yang aku temui diperjalanan, tapi juga gelombang ancaman dan todongan senjata api. Terlepas dari itu semua, aku bersyukur karena hari itu Tuhan mengizinkanku untuk menginjakan kaki di Gaza. Akupun segera bertindak cepat, ketika itu aku diberi tugas menjaga anak-anak di salah satu bangsal Rumah Sakit Gaza yang saat itu memang sedang banyak mendapat gempuran. Sampai akhirnya kami para relawan dari berbagai negara sepakat untuk memindahkan para anak-anak tersebut ke tempat yang lebih aman, keluar rumah sakit. Dengan sigap aku mengevakuasi anak-anak dengan bermacam kondisi, mulai dari yang kehilangan kaki hingga yang kehilangan kedua matanya akibat serangan membabi buta. Hari itu aku sempat lega karena telah berhasil mengevakuasi seluruh anak-anak ketempat yang jauh lebih aman, tapi seketika semuanya berubah saat kulihat kedua teman relawanku memegangi erat tubuh seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh thaunan yang terus menjerit histeris karena ternyata boneka kesayangannya, boneka peninggalan Almarhumah ibunya terjatuh tepat dipintu keluar rumah sakit. Tanpa pikir panjang akupun berlari secepat mungkin menuju rumah sakit, sambil berharap lariku akan jauh lebih cepat ketimbang rudal yang akan menghujam rumah sakit tersebut. Namun apa daya, rudal biadab itu sempurna mendahuluiku saat aku sudah tepat kira-kira tiga meter dari rumah sakit. Splassshhh!!!. Seketika tubuhku terasa remuk, kepalaku seperti terkoyak, bau mesiu menyengat penciumanku, dadaku sesak, pengelihatanku kabur. Saat itu aku memohon agar Tuhan menguatkanku, hingga datang seorang laki-laki dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya menghampiriku, menggendong tubuh lemahku. Sungguh meski pengelihatanku saat itu kabur, tapi aku lihat dan aku ingat, laki-laki itu memiliki mata yang sama dengan ‘dia’, bola mata coklat besar yang terlihat begitu hangat. Tuhan apakah mungkin itu ‘dia’?. Sekejap setelah itu semua gelap.
            Beberapa jam kemudian aku tersadar. Tubuhku teramat sakit bila digerakan terutama pada bagian tangan sebelah kiri. Dokter mengatakan hampir seluruh tubuhku dipenuhi serpihan material bangunan akibat ledakan rudal dan yang paling parah terkena adalah tangan sebelah kiri, bahkan dokter nyaris saja mengamputasinya, namun aku bernasib baik, karena serpihan itu tak sampai masuk kedalam kulit bagian dermisku, luka yang adapun tidak sampai menginfeksi sehingga lukaku meski parah, masih bisa untuk diobati. Aku lega, sungguh sangat lega. Tapi lagi-lagi aku teringat mata itu, siapa sebenarnya yang ada dibalik masker itu, akupun berharap semoga Tuhan menunjukan jalan bagiku.
            Menjalani perawatan di kamp pengungsian membuatku bosan dan merasa tidak berguna, hanya berbaring ditempat tidur tanpa melakukan apapun, sungguh bukan itu tujuanku berada disini saat itu. Akhirnya setelah seminggu menjalani perawatan, aku meminta perawat membantuku duduk di kursi roda, akupun berkeliling dan bermain bersama anak-anak dipengungsian, membantu menyiapkan makanan di dapur umum dan membagikannnya pada pengungsi, seolah lupa dengan kejadian satu minggu yang lalu. Ketika semua selesai, sehabis Isya aku membawa tubuhku dengan kursi roda ke tepi tebing dekat tenda-tenda pengungsian, perlahan aku hirup udara malam dan berharap semua akan baik-baik saja, aku yakin sepanjang niat kita baik, maka akan selalu ada jalan menuju seribu kemudahan. Malam itu aku ingat, sangat ingat, ketika teman relawanku mengatakan ada seorang arsitek dari Indonesia yang akan membangun kamp pengungsian baru, temanku juga mengatakan bahwa laki-laki itulah yang sudah menolongku dari ledakan rudal di rumah sakit, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah barat, agak sedikit jauh dari pengungsian, tepat dimana seseorang yang ia maksud berada. Laki-laki dengan celana coklat serta baju putih lengkap dengan rompi safari coklatnya.
            Malam itu tanpa kuduga, situasi kembali mencekam, rudal-rudal, bom dan lainnya semakin hingar-bingar membalut kegelapan malam itu. Jelas yaa sangat jelas, tepat ketika sebuah bom membelah gelapnya langit malam, semburat cahayanya sempurna memperlihatkan wajah laki-laki itu, wajah laki-laki dimana delapan tahun yang lalu sempurna menyeruak dalam hatiku. Ingin aku menyapanya, namun belum sempat aku menyapanya, teman relawanku dengan sigap mendorong kursi rodaku menjauh darinya. “Dasar bodoh, apa kali ini kau sudah benar-benar ingin mati ha?!”. Ucapnya dengan nada tinggi, karena memang rudal-rudal itu semakin mengincar kami di pengungsian. Akupun kembali kehilangannya. Sampai semburat cahaya lagi-lagi memperlihatkan keberadaannya, meski kali itu aku hanya bisa melihat sebatas punggung berbalut rompi safari coklatnya saja, karena memang ‘dia’  berada jauh di depanku saat itu. ‘dia’ bukannya lari menyelamatkan diri, justru menentang maut dengan menghampiri pusat terjadinya ledakan akibat rudal. Akupun berusaha memanggil namanya sekeras mungkin yang aku bisa, tapi terlambat. Splassshhh!! Semburat cahaya kembali muncul, sepersekian detik saja, rudal menghantam daerah dekat tubuhnya berada. Tuhan lindungi ‘dia’, selamatkan ‘dia’, sungguh Tuhan aku sanggup dengan rasa sakit disekujur tubuhku ini, tapi aku tidak akan sanggup jika harus melihat tubuhnya terkulai kaku penuh luka dan detak jantungnya tak dapat lagi kudengar justru dihari ketika aku menemukannya kembali, Muas Albany.
           
           
            

Minggu, 23 Desember 2012

Mini FIKSI "Merakit Mimpi (kembali)"




Hari ini aku sempurna dibuat sibuk menatap butiran salju yang mengembun di kaca jendela kampusku, Universitat Innsbruck. Sulit untukku mempercayainya, ini bagiku bagaikan sebuah mimpi. Saking tak percayanya aku merasa sangat takut, takut jika semua ini memang hanyalah efek ilusi dari mimpi besarku. Dari dulu hampir semua orang yang mengenalku menjuluki aku si “pemimpi besar”, yaa si pemimpi yang hanya bisa terus bermimpi tanpa bisa mewujudkan mimpinya menjadi sebuah kenyataan. Menyedihkan memang, aku berasa menjadi pecundang sejati.
Memiliki label “pemimpi besar” atau merasa menjadi pecundang sejati, itu bukan berarti aku hidup tanpa perjuangan, hanya bermalas-malasan lalu berharap hidupku akan berubah jadi indah dengan sendirinya, berharap dunia terbalik dan menjadikanku gadis tersukses dengan segudang prestasi sejagad raya. Bukan, sungguh bukan begitu hari-hari dihidupku. Memiliki sebuah mimpi bagiku merupakan satu hal yang istimewa, kenapa istimewa? Sederhana saja jawabannya karena dengan bermimpi aku merasa hidup. Sesederhana ketika kalian flu, mendapatkan sedikit saja ruang untuk menghirup udara, maka udara itu akan sangat membantu untuk nafas kalian yang berikutnya meski hidung akan memerah, tapi setidaknya itu sudah cukup memicu kalian untuk menghirup udara yang lebih banyak lagi. Begitulah mimpi, ketika kalian merasa terjerembab dalam posisi paling bawah, saat dirasa tak ada lagi yang dapat mengerti apa yang kalian rasakan, ketika merasa dunia semakin nyata menunjukan kerikil kepedihan dan detik dimana kita meyakini bahwa semua orang telah berubah, berubah menjauh. maka disanalah mimpi itu ada. Membuat kita mampu merengkuh banyak hal dikemudian hari.
Keyakinan akan  mimpi besarku membuat aku yang hanyalah seorang gadis pemalu, menjadi seorang gadis yang penuh semangat dengan bendera optimisme dalam hati. Tubuhku yang kini aku bawa menginjak tanah di negeri orang sungguh bukan karena aku pintar, cerdas atau karena hanya kebetulan beruntung. Ini sempurna kebaikan Tuhan untukku atas mimpi-mimpi dan tentunya “usaha besar”ku . sebenarnya semua berawal dari impianku untuk bisa memdapatkan beasiswa yang memang sejak semester pertama aku masuk kuliah, sudah sangat aku inginkan. Dari awal masuk kuliah aku mati-matian belajar demi mengejar IP minimal 3,75 saat naik ke tingkat dua yang menjadi salah satu syarat untuk memperoleh beasiswa itu. Hal baik pun terjadi, buah dari belajar mati-matianku, IPku bulat 3,75. Aku sukses dipanggil untuk menjalani serangkaian tes beasiswa karena memang yang Ipnya 3,75 bukan hanya satu atau dua orang saja, sedangkan kuota yang ada untuk beasiswa itu hanya 10 kursi. Sukses?yaa aku sukses dipanggil, tapi tidak ketika tes TOEFL.
TOEFL dibawah standar seolah menjadi malapetaka untukku, perjuanganku, begadangku selamana ini, semua terasa sia-sia. Tiba-tiba aku tersadar, itulah buah kesombonganku, tak pernah mau jika disusruh ikut kursus TOEFL dengan alasan “lelah”. Sungguh mimpi itu sesungguhnya tak mengenal lelah. Sepersekian detik setelah menyadari hal bodoh yang menggugurkan mimpiku, aku pun meneteskan bulir air yang mebulat tepat diatas meja belajarku. Aku akui saat itu semangatku runtuh, melangkahkan kaki hanya karena aku manusia, tanpa mengerti untuk apa aku melangkah. Begitu seterusnya hingga setengah semester aku lalui di semester tiga.
Pagi itu aku ingat, amat sangat ingat setelah sebelumnya aku harus susah payah menuju kampus, dua jam berkutat dengan macet. Untuk pertama kalinya seorang profesor sekaligus guru besar mengajar dikelasku, profesor bertubuh tegap dengan sedikit uban yang menyembul di sela-sela rambut hitamnya itu sempurna terlihat bersahabat, terlebih senyumnya begitu hangat. Tapi bukan itu, bukan itu yang lantas membuatku mengagumi sosoknya sebagai profesor sekaligus guru besar, malainkan semangat serta kecerdasannya dalam memandang dunia. Dulu beliau sama sepertiku, hanyalah seorang mahasiswa biasa, yang membedakannya dengan mahasiswa lain adalah mimpi dan semangat yang ia miliki. Tiga jam perkuliahan benar-benar aku telan matang-matang lalu kucerna baik-baik kedalam otakku, banyak yang beliau ceritakan terlebih mengenai salah satu universitas ternama di austria, universitat innsbruck. Keindahan gunung alpen yang menjulang cantik sebagai latar kampus itu, yang beliau ceritakan sekaligus gambarkan melalui foto, sungguh membuat hatiku bergetar, hingga semburat mimpi mulai terbit “Kelak aku yang akan ada disana”. Tak lama selongsong kata-kata beliau pun menjadi sangat amat melekat dalam otakku “Anything is Posible”. Itulah kunci mimpiku berikutnya. Di hari itu juga aku memohon, memohon pada Tuhan agar mengizinkan dan meridhoi aku untuk merakit mimpi (kembali). Sesungguhnya mimpi itu besar karena usaha yang kita lakukan, bukan karena sejauh mana kita mampu memimpikan hal yang dianggap besar. Sekecil apapun mimpi kita, akan bisa sangat besar jika kita bersungguh-sungguh meyakini, menjalani dan mengusahakannya J

Minggu, 02 Desember 2012

Haddad Alwi "Semua UntukNya"

Sedikit saya mau berbagi cerita di blog ini, boleh kan?hhe
akhir-akhir ini saya sangat menyukai lagu dari Haddad Alwi yang berjudul "Semua untukNya'. Awal dengar dan tahu lagu itu sebenarnya dari iklan QLC Kids hhe, tapi SubhanAllah pertama kali dengar saya sudah langsung jatuh cinta dengan syair lagunya. berikut syair lagunya :)

Ku buka mata ini dan pandangi
Mentari pagi, Alhamdulillah
Ku mulai langkahkan kaki ini
Arungi bumi dan Bismillah

Nikmati indah karunia-Nya
Alam semesta ini milik-Nya
Semua kan kembali pada-Nya

Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Lillahi robbil 'alamin

Ku buka mata ini  pandangi
Mentari pagi, Alhamdulillah
Ku pejamkan mata lelap sepi
Berharap bunga mimpi, Alhamdulillah

Nikmati indah karunia-Nya
Alam semesta ini milik-Nya
Semua kan kembali pada-Nya

Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Lillahi robbil 'alamin

Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Lillahi robbil 'alamin (
http://mp3indodownload.blogspot.com/2011/08/lirik-lagu-haddad-alwi-feat-anti-semua.html)

Indah banget kan syair lagunya?mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan mengawali hari dengan Bismillah serta memasrahkan semua pada-Nya :). seperti ikrar kita ketika sholat, Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati, Lillahi robbil 'alamin (Sesungguhnya shalatku dan ibadahku, hidupku dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam) 

Buat siapapun yang baca blog saya ini, semoga setiap apa yang saya tulis di blog ini bisa bermanfaat untuk kalian :) dan Terima Kasih sudah mengunjngi Blog saya :)

Kamis, 29 November 2012

Jejaring Sosial


Merebaknya berbagai situs jejaring sosial di hampir seluruh dunia kini menjadi topik pembicaraan tersendiri. Banyak yang menilai bahwa situs jejaring sosial ini banyak menimbulkan dampak positif karena dapat memudahkan seseorang dalam berkomunikasi dengan yang lainnya walau jarak mereka saling berjauhan. Selain itu bagi sebagian orang, situs jejaring sosial juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri karena dapat meningkatkan eksistensi mereka dalam bersosialisasi. Namun adapula beberapa orang yang mengkritik situs jejaring sosial karena dapat memunculkan rasa ketergantungan dan menimbulkan bermunculannya beragam modus kejahatan baru.
Situs jejaring soisal sendiri merupakan sebuah web berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut. Ada berbagai macam situs jejaring sosial, diantaranya adalah Facebook, twitter, MySpace, Line dan Whatsapp. Di indonesia sendiri facebook merupakan salah satu jenis jejaring sosial yang paling digemari sekaligus paling banyak diakses dan menimbulkan berbagai polemik. Baru-baru ini Daily Mail menyebutkan kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook dapat membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental. Hal ini memang bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring sosial, di mana pengguna diiming-imingi untuk dapat menemukan teman-teman lama atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan mereka saat ini.
Eeeiiitss, abis baca tulisan di atas jangan langsung parno alias paranoid ya. Inget dibalik kelemahan pasti ada kelebihan begitupun sebaliknya hhe. Jadi selama kita masih menggunakan jejaring sosial secara wajar, kita aman. Karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, jejaring sosial juga berguna untuk kita dalam menemukan teman-teman baru dan memperluas relasi. Selain itu ada lagi nih, dibalik pembuatan jejaring sosial pastinya juga melibatkan kreatifitas serta kecerdasan yang dimiliki para pembuatnya kan?nah karena itu situs jejaring sosial dapat dijadiakan ajang lomba kreasi dengan menciptakan situs jejaring sosial lainnya. Hmm tahu tidak ternyata selain ada facebook, twitter dll yang jelas-jelas buatan luar, indonesia juga punya loh situs jejaring sosial asli buatan anak bangsa hhe. Berikut 24 situs jejaring sosial asli buatan programmer indonesia :

Adandu Situs ini diluncurkan  dalam versi beta di bulan Oktober 2009. Situs web berbagi video dan layanan pengunggahan video ini menyediakan layanan gratis bagi pengguna umum dan pembuat atau penerbit video independen.
AkuCintaSekolah Situs komunitas yang bertujuan untuk menjadi wadah semua orang yang pernah dan masih sekolah di Indonesia. Situs jejaring sosial ini menurut penggunanya cukup aman bagi anak sekolah. Semua data yang didapat oleh situs ini merupakan hasil survei yang langsung didata ke setiap sekolah.
Catchfriend Situs ini meski sederhana, namun menyajikan halaman khusus untuk bisnis. Sayangnya jejaring ini tidak memiliki notifikasi jika ada user baru yang bergabung atau menampilkan user yang sedang online.
digli Secara konsep, situs jejaring ini menggabungkan antara Facebook dengan Kaskus. Jumlah anggotanya saat ini mencapai 11.942 orang.
FB.co.id Situs ini lahir dengan konsep yang hampir mirip dengan Facebook, yaitu menjaring sebanyak-banyaknya user untuk menjadi member aktif. beberapa fitur seperti sharing album foto, video, dan blog.
Fupei Friends Uniting Program Especially Indonesia, sebuah situs komunitas yang berisi jurnal persahabatan dan kreatifitas di internet, dikhususkan untuk kalangan Indonesia.
Goesmart Sosial media pendidikan buatan Bandung ini diperuntukkan bagi pelajar, guru, orang tua dan alumni. Situs web berbasis multimedia interaktif ini terdapat fitur ruang diskusi, ngobrol, rapor, album alumni, book viewer, soal latihan, dan badge.
Indoface Situs ini membagi anggotanya menjadi 2 macam, personal member dan band member. Seorang anggota dapat membuat polling atau jajak pendapat untuk dibagikan ke anggota lainnya.
Kiber Kependekan dari Kitaberbagi.com, situs yang menjadi wadah untuk berbagi dan bersilaturahmi dengan kerabat, teman, atau relasi.  
Kombes Dengan berbagai macam aplikasi untuk berintekrasi secara online seperti chat room, im chat, forum, sharing video/audio, social bookmarking yang menarik. Situs yang ber-tagline The Indonesian Social Network ini memiliki anggota 44.219 orang.
Kongkoow Situs jejaring sosial bercitarasa lokal yang menyediakan fasilitas sangat lengkap seperti akun e-mail, file sharing, video streaming, dan blogging
Koprol Salah satu keunggulan Koprol adalah fitur Place Tag, yang akan menginformasikan teman di dekat lokasi anda. Karena popularitasnya, situs ini kemudian dibeli oleh Yahoo!
LiLOCITY LiLO (Little Online), merupakan media berkumpul anak muda yang berkonsep virtual world society (VWS). Situs ini terhubung dengan situs jejaring Facebook.
Otofriends Dengan tagline “Community Gathering, Start From Indonesia”, situs ini tergolong cepat dengan fitur komplit serta terus bertambah. Fiturnya merupakan kombinasi dari Facebook, Yahoogroups, Friendster, dan Multiply dengan mengkhususkan pada bidang otomotif.
Mobinesia : Tampilannya cukup simpel seperti sebuah forum online. Jejaring yang didirikan pada 2009 ini dibuat untuk sarana pertemanan berbasis ponsel dengan fitur microblogging, album photo, kronologer status, messaging, dan chat.

Kesimpulan : Menjamurnya trend situs jejaring sosial di dunia maya membuat adanya perubahan bagi kehidupan sebagian masyarakat. Banyaknya berbagai peluang yang disediakan oleh situs jejaring sosial juga ikut memancing ide bagi para usernya, seperti mulai dari mencari teman baru, memanfaatkan situs tersebut untuk berjualan, promosi, membentuk suatu komunitas hingga memperoleh informasi seputar hal-hal yang mereka gemari. Namun seiring banyaknya manfaat jejaring sosial, ternyata jejaring sosial juga dapat menimbulkan dampak buruk seperti efek ketergantungan serta berdampak kurang baik bagi kesehatan jika digunakan secara tidak wajar atau berlebihan. Selain bermunculannya situs-situs jejaring sosial dari para programmer luar, ternyata di indonesia sendiri juga tidak mau kalah, ini terbukti dengan eksistensi 24 jejaring sosial asli buatan anak bangsa yang kini mulai memasuki kehidupan dunia maya, seperti koprol, kiber, indoface dll.


Refrensi :

Kegunaan Internet dalam Dunia Psikologi

            Hmmm, tidak bisa kita pungkiri bahwa media internet beberapa tahun terakhir ini memang  telah banyak menyedot perhatian semua kalangan. Kemudahan mengakses serta segudang fasilitas yang ada pada media tersebut, nyatanya juga sangat membantu kita dalam memperoleh berbagai informasi, menghubungkan kita dengan semua orang dibelahan dunia dan mengenalkan kita pada sensasi permainan versi dunia maya. tapi kali ini saya tidak akan membahas mengenai sejuta fasilitas, kemudahan mengakses internet dan lainnya, karena kali ini saya akan membahas mengenai internet dan psikologi. Sebelum masuk ke pembahasan inti, saya akan sedikit memberikan gambaran tentang apa itu internet yang sebenarnya dan apa itu psikologi.
Internet (kependekan dari interconnection-networking) secara harfiah ialah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia (http://id.wikipedia.org/wiki/Internet). Lalu apa itu psikologi?Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perilaku dan kognisi manusia. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa (http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi).
Nah setelah sekilas kita mengetahui tentang apa itu internet dan psikologi, pastinya kita bertanya-tanya, sebenarnya ada ga sih kegunaan atau hubungan antara internet dan psikologi?. oh tentu ada, contohnya internet dapat memudahkan penyelenggaraan pendidikan psikologi karena user/pengguna internet dapat mengunduh materi pembelajaran atau informasi yang berkaitan dengan psikologi. terlebih lagi di indonesia masih sangat jarang sekali ada toko buku yang menjual buku-buku karya anak bangsa, kebanyakan buku yang beredar adalah terbitan luar yang tentunya juga di tulis bukan oleh orang indonesia. Dengan adanya media internet kita jadi bisa memperoleh berbagai e-book dan jurnal psikologi secara cuma-cuma (asik kan?hhe). selain itu ada juga loh yang namanya e-counseling, e-counseling merupakan salah satu bentuk nyata hubungan antara internet dalam bidang psikologi. e-counseling bekerja pada internet dengan menawarkan suatu proses psikoterapis yang menggunakan suatu media komunikasi yang baru, dimana melalui media tersebut mereka dapat memberikan intervensi psikoterapi, itulah yang disebut dengan E-counseling atau e-mail counseling. Jadi dalam e-counseling proses terapi terlebih dahulu dilakukan melaui media ini, untuk kemudian menyususn rencana dalam melakukan intervensi psikologi secara face-to-face akan dilakukan.
Kesimpulan : Baik disadari maupun tidak, internet sudah menjadi bagian dalam keseharian kita. berkembang pesatnya teknologi akhir-akhir ini ternyata juga ikut mempengaruhi dunia psikologi. diantaranya kemunculan internet yang kian mempermudah akses user dalam memperoleh berbagai pengetahuan khususnya pengetahuan mengenai dunia psikologi yang pada akhirnya memuluskan pengajaran pendidikan psikologi. selain itu ketenaran internet turut serta pula dalam menginspirasi munculnya e-counseling atau layanan psikoterapis melalui email. Secara keseluruhan, internet banyak menimbulkan dampak positif bagi dunia psikologi karena kontribusinya dalam mengeksplore setiap usernya untuk bisa menjadi lebih kreatif dan mengambil keuntungan positif, khususnya dalam bidang psikologi.

Refrensi :



            

Kamis, 15 November 2012

Makromolekul



Hari itu,,
udara berpendar mengelilingi bumi

meniupkan atmosfer sesak yang kemudian menelusup masuk mlalui pori-pori tubuh. . .
Tempat itu,,

menceritakan tentang besitan yang tergurat gamang di celah hati semanis saccartum. . .
Cahaya itu,,
mengibaskan lesatan ampuh menusuk mata memekakan pikiran

membentuk monosakarida lalu larut dalam embun di retina. . .
Suara itu,,
memekikkan kilat seperti termoseting tahan panas

sukar melunak meski merapuh. . .
Hati itu,,
menyerupai polistirena, kaku dan rapuh

sampai pada titik tertinggi, leburan itu pun membuncah meraup tekanan etena. . .

Hari itu,,
kurasa makromolekul melumat dalam tubuhku. . .


By : Khairunnisa Nurul Fadillah ^^

Pejuang kecil palestina

Mereka memang kecil, tapi nyatanya nyali mereka jauh lebih besar dari kalian yang merasa paling berani
Mereka memang kecil, tapi lihatlah seorang anak kecil dengan sebongkah kerikil kecil dalam genggaman

berani menentang teng baja di hadapannya!
Mereka memang kecil, tapi lihatlah, tak ada air mata yang jatuh saat timah panas menembus kakinya!
Mereka memang kecil, tapi lihatlah, begtu gagah menentang walau rusuk harus terhantam kerasnya senapan!
Mereka memang kecil, tapi lihatlah, sanggup tertawa walau pelipisnya robek penuh luka!


Di pengungsian merka sendri, karna ibu dan ayahnya telah jadi syuhada

di pengungsian mereka sendri, hanya bau mesiu, harum darah dan puing tulang manusia yang bisa djadikan teman. . .

Mereka memang kcil, tapi nyatanya mereka kuat

Mereka memang kuat, tapi bukan berarti mereka tak btuh do'a. .
Kau tau, knp mreka kuat?krna Allah mendekap mereka, memeluk mereka dengan cahaya kasihNya. . .


By : Khairunnisa Nurul Fadillah ^^